Implementasi Model Servant Leadership dalam Penguatan Budaya Sekolah Humanis
Keywords:
Implementasi, Model Servant Leadership, Budaya SekolahAbstract
Di banyak institusi pendidikan, budaya sekolah masih didominasi oleh pendekatan otoriter, instruksional, dan top-down. Model ini seringkali menciptakan hubungan yang kaku antara kepala sekolah, guru, dan siswa, serta menghambat tumbuhnya kepercayaan dan kolaborasi(Sendjaya & Sarros, 2002). Jika kondisi ini tidak segera diatasi, maka akan berdampak pada lemahnya keterlibatan warga sekolah, menurunnya motivasi guru dan siswa, serta melemahnya nilai-nilai kemanusiaan dalam proses pendidikan. Apalagi dalam era Merdeka Belajar, otonomi dan humanisasi pembelajaran menjadi semakin penting. Tanpa kepemimpinan yang mampu menumbuhkan iklim saling melayani dan saling menghormati, sekolah akan gagal mencetak individu yang berkarakter kuat dan mampu menghadapi tantangan abad 21. Oleh karena itu, mendesak untuk mengeksplorasi model servant leadership sebagai solusi untuk membangun budaya sekolah yang humanis, partisipatif, dan berkelanjutan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan implementasi model servant leadership dalam penguatan budaya sekolah humanis. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi prinsip-prinsip servant leadership yang diterapkan oleh kepala sekolah; (2) mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai tersebut diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari warga sekolah; dan (3) mengevaluasi dampak penerapan
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research) yang bertujuan untuk mengkaji secara mendalam konsep internalisasi nilai-nilai humanis dalam konteks pendidikan, khususnya dalam aktivitas harian di lingkungan sekolah. Sebagai penelitian kualitatif, studi ini berfokus pada pemahaman makna, gagasan, dan hubungan antarkonsep yang terkandung dalam berbagai sumber literatur ilmiah, tanpa menggunakan data numerik atau pendekatan statistic
Relasi interpersonal yang egaliter dan empatik di sekolah merupakan fondasi penting dalam menciptakan iklim belajar yang inklusif dan humanis. Studi terkini (Qian & Walker, 2021) menunjukkan bahwa kepemimpinan paternalistik dan komunikasi empatik kepala sekolah mampu meningkatkan kepercayaan dan keterikatan emosional dengan guru. Guru dengan kapasitas empati tinggi cenderung membangun interaksi yang positif dengan siswa, meningkatkan norma sosial, dan memperkuat kohesi kelas